Kawah Ijen,The First Encounter

An introduce journey to Kawah Ijen, witness the exotic of 'Blue Fire'.

Amed, The Sapphire of East Bali

Embrace the wind, Feel the sun, and discover the underwater life of East Bali.

Bromo, Heart of The East Java

Visit one the most fascinating mountain of Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Nusa Ceningan, The Hidden Paradise

Discover the secret beach on this small enchanting island of Bali.

Seger Beach, One of Lombok's favorite beach

Lombok has so many beaches and you never be bored when you step your feet here.

Showing posts with label Tourism. Show all posts
Showing posts with label Tourism. Show all posts

Monday, March 17, 2014

Nusa Penida, Jangan Tanam Beton Disini..!




Setelah pergi ke Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan tak lengkap rasanya jika belum mengenal pulau yang satu ini. Nusa Penida, sebuah pulau seluas kurang lebih 200 km persegi terletak di tenggara Pulau Bali dan tentu saja bertetangga dengan Lembongan dan Ceningan, orang lokal menyebutnya 'Nusa Gede'.

Adalah teman saya 'Tutde' yang pertama kali mengajak ke Nusa Penida, selain karena ingin mengunjungi teman yang sedang KKN si Eko (Teman sewaktu #whatevertrip di Lembongan) kita juga ingin mengeksplor Nusa Penida, yang katanya Sangat indah itu.
Berangkatlah kami menuju Pelabuhan Padang Bai pada Hari Pertama di bulan Agustus ini 2013, bersama satu travel buddy yang agak nyeleneh si Baron.






Setelah 45 menit diatas lautan, kami berlabuh di Dermaga Nusa Penida, disini teman kami Eko sudah menunggu dan akan membawa kami ke basecamp mereka di Desa Tanglad, sekitar 30 Menit menyusuri pesisir timur Nusa Penida dan terus menanjak hingga akhirnya kami sampai di sebuah desa yang cukup dingin karena letaknya di atas bukit. 

Sebagai tamu tak diundang, kami merasa beruntung karena mereka mau berbagi tempat menginap untuk malam pertama di Nusa Penida. Sebenarnya perjalanan ini tanpa itenary dan tanpa rencana yang matang, jadi prinsipnya 'go with the wind'.
Sore itu kami hanya beristirahat di basecamp KKN UNUD di Desa Tanglad, malam harinya kami makan bersama, ikan bakar dibalut sambal mentah melilit lidah kami malam itu.









 Usai makan malam, kami merencanakan tujuan esok pagi dan pilihan akhirnya jatuh pada Pantai Atuh. Terletak disisi timur Pulau NusPen dengan jarak tempuh sekitar 1 jam dari Desa Tanglad, kami berangkat sekitar jam 5.30 menempuh dingin dan gelapnya subuh di Nusa Penida. Jalan menuju Atuh penuh kelok dan rusak, sehingga membuat mata kami selalu terbuka karena getaran jalan yang tak rata.

6.30 kami sampai di Atuh, "Dimana Pantainya?" Celetuk Baron dengan wajah datar. "udah deket, jalan dulu lagi 15 menit" sahut Eko. Sejauh mata memandang kami hanya melihat hamparan ladang, tapi aroma laut memang sudah tercium terbawa angin yang cukup kencang pagi itu. Dan setelah melewati ladang-ladang gersang kami tiba di bibir tebing dengan pemandangan laut lepas dihiasi karang-karang absurd yang menawan. Puas menjelajah tebing Atuh dan memotret sang fajar, kami masih bertanya-tanya "Namanya Pantai Atuh, Pantainya Manaa?" , tanpa suara eko menunjuk kebawah tebing, dafuqq!! sebuah setapak kecil menurun terjal dengan tinggi sekitar 15-20 m. Karena angin kencang akhirnya kami punya alibi untuk tidak turun karena terlalu berbahaya, next time kita akan cari jalan darat yang lebih manusiawi dan aman.









 Sang Surya mulai meninggi, kami segera beranjak dari Atuh dengan harapan suatu saat akan kembali kesini dan menginjakan kaki di pasir pantainya. Back to basecamp kita makan siang wajib para pejalan kere, "Mie Instan!". Setalah isi perut, kita berunding tujuan selanjutnya dan memutuskan untuk bermalam dirumah teman kami Pande Kadek Heryana aka Apel, beliau pemilik worldwide brand APstuff yang produknya sudah mendunia. Sekali lagi kami numpang dirumah orang, maklum low budget broo. sang surya perlahan mulai condong ke barat kami tiba di Desa Sebunibus, cukup dekat dengan dermaga dan pasar. Sore itu dengan ramah kami diterima oleh bli Guna, kakak dari Apel. berhubung si Apel lagi di Denpasar jadi kita bisa pakai kamarnya yang cukup berantakan. Sore itu kami diajak ke Crystal Bay, sebuah Teluk Kecil dengan karang unik yang berlubang berdiri kokoh ditengah laut. Kunjungan singkat itu cukup untuk menghapal jalan, esok kami akan kembali kesini untuk snorkling.

Malamnya kami disuguhi Sup Ikan masakan mbok Desak, istri Bli Guna. Makanan paling mewah sejak kami tiba di NusPen. malam itu kami habiskan dengan berbincang mengenai berbagai hal tentang NusPen, mulai dari cerita horor sampai cerita mistis lainya, alhasil kita ga bisa tidur dengan tenang.

Keesokan Paginya kami bersiap menuju tempat yang menjadi tujuan utama kami, Jarak tempuh sekitar 1,5 jam dengan medan jalan berbatu karang, rusak, ancur, abstrak pokoknya hell! tapi dibalik jalan neraka itu ada secuil surga yang tersembunyi. 'Pasih Uug' begitu orang Nusa menyebutnya, Pasih berarti pantai, Uug berarti rusak/hancur. Mungkin nama itu lebih dikarenakan jalan menuju kesana yang super parah, tapi view disini heavenclass mamenn!

Pasih Uug, tidak seperti Atuh yang memiliki akses turun kebawah. Kita cukup menikmati suara deburan ombak yang masuk dari celah besar di tebing dan menikmati pemandangan ajaib karya Sang Pencipta. Semoga saja nantinya tidak ada 'beton' yang 'ditumbuhkan' ditempat ini. Panas makin menyengat kami langsung beranjak, mencari santap siang.








Sambil menunggu matahari meneduh, kami beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke Crystal Bay untuk Snorkling. 

Pukul 2 siang matahari rupanya masih cukup menyengat, namun karena sudah tidak sabar mencumbu crystal bay, akhirnya berangkat sudah. Tiba di crystal bay yang sepi kami langsung mendirikan tenda, "buat apa?" biar keren aja buat foto ceritanya nge-camp disini hehe..
Air yang bening dan ombak yang sopan membuat kami betah berlama disini, biota bawah laut-nya keren abis..Tapi sayang belom kesampean punya underwater camera #kode.

Gurat senja di crystal bay menutup perjalanan kami kali ini, Next Time kita pasti kesini lagi menjelajah NusPen yang masih banyak punya rahasia.


Start your Journey and Say Hello! to Universe..see ya!

Left to Right, Baron-Tutde-Me

Wednesday, August 21, 2013

Kawah Ijen : The First Encounter



A few days before the Independence Day i've heard a plan to Kawah Ijen from my friend Eko and Tutde, but I  still doubt because on that date there was something I need to do. At first I feel sad can't take part with them to Ijen, because I  really wanted to go and when the chance come I can't go for it.
Suddenly on 16 August in the afternoon I have the chance to go, because something I need to do was postponed. Excited for sure! Then I packed few things to bring on my backpack get sleep early.

Ringggg..ding..ding the alarm was ringing and we ready to go, Ijen we're coming! In this trip I go with Tutde,Eko,Sukmana, and 8 other guys from their SHS friends. We ride motorbikes and arrive at the Gilimanuk Harbour arround 8AM. Then crossing with ferry about 45 Minutes. Bang..arrive at Ketapang, first time for me riding to java. First we go to Indra house in Banyuwangi, Indra is our friend and he guide as in this trip. We have lunch and rest at his house (Thx a lot Indra and fams!) and then go to Kawah Ijen. About 1,5 hours ride motorbike we arrive at Kawah Ijen entrance gate, entrance fee is cheap Only Rp.3000/motorbike. First tips, If you want to Kawah Ijen with motorbike I suggest the one with gears, don't use matic because the road is going up and up, I thought matic not a good choice here.

The Mountains brother of East Java, Ijen is among them.
The Passengers sighseeing.
Fellas, thanks for let me join the trip!
We park our motorbikes near Warung Bu'Im, and ask her for keeping our motorbikes safe in a night. Then we start to trekking from Paltuding to the Pos Bundar, the place we use for setting up the tents. After 2 hours walk finally we arrive at pos bundar, we start to set up the tents and cooked Pop Mie (Hiker's must bring supplies). After finish dinner, we all get rest early because at 2 AM, we will walk again to the crater.

One of our motorbike is broke, so few of us must walk wait for other friends picking up. Next time be sure your motorbike are totally ready.

Trekking start from Paltuding, before it let get's bit narcism (photo by Tutde)
Reload...Reload... halfway from pos bundar. (photo by Tutde)
Cup Mie save our stomach. (photo by Tutde)
2AM we're get ready to hike, it takes about 1 hour walk to the crater. The track from pos bundar to the crater is better, track from paltuding is more exhausting (IMHO).Second Tips, I suggest you set up a tent and sleep overnight at pos bundar, because if you track all the way from Paltuding to the crater you'll be too exhausted and spend more time (except you are Pro Hiker and have a strong physical). Finally we arrive at the crater rim, many people already here it was so crowded due to Independence Day many youth Hiking to the mountain to celebrate. It's about 3AM still dark, then we walk down into the crater to see the famous 'Blue Fire' and the Sulfur miners works. Here your adrenaline be pumped, the way down into the crater was very steep and rocky, be sure to bring headlight/flashlight. I put a big respect to the Sulfur Miner, everyday they go up and down (paltuding-crater) carrying about 75kg sulfur which just rewarded Rp. 55.000. 'Their life as rough as the rocky path to the crater, but they always tough like a mountain' Respect!.

The outerspace, the stars are beautiful from the crater.
Sulfur Miner on duty.
The Famous Blue Fire, unfortunately it was so crowd.
We wanted to step up closer, but the smoke is getting bigger.
Two miners carrying sulfurs, believe me it's Heavy!
The path to the crater, very steep and rocky but before see heaven you must pass the hell, right?.
The miner works from early morning, because at the noon the smoke getting bigger.




Mr.Play boy say thanks to APstuff Clothing for free Tshirt, stay awasome Sir!
Thanks for APstuff for the endorsement, we love u! (photo by Sukmana)
The smoke of sulfur.
The biggest acid lake of the world according to uncle google.
Warning, the risk is yours.
The crater rim, the best time to visit Ijen are in June,July and August.

Morning chat before go down to the crater.






Eko, Pur, Arwin, and ....(forget the name) hhaa...
We Love Indonesia!





See..the road is never flat.



Pano of Ijen, Merged from 12 photos.
After 'walk like grandma' down, finally we can saw the Blue Fire live in front of our Eyes, but we can't stay long enough because sometimes the wind change and blow the smoke toward us and it's happen a few times. Actually getting down to the crater is prohibited for the visitors, because it's dangerous way and the smoke of sulfur makes you hard to breath. But if you are don't care the rules the risk is yours, don't forget to use masker and cover it with wet towel it lil'bit help to filter the smoke. Hmmm..I think is not enough explore Ijen just one day, next time I'll come again..Well this just my First Encounter...see ya!!
Full team, (Left>Right) Adi, Wayan, Andi, Indra, Petruk, ... , Pur, Emon, Eko, Sukmana, Tutde, Arwin, Me....!